| Devisa Tertinggi dalam Sejarah RI |
|
|
|
| Written by Paul SinlaEloE | |
| Selasa, 29 Mei 2007 | |
|
NTT Online - Indikator-indikator makroekonomi terus bergerak mencapai titik tertinggi. Setelah indeks saham melampaui level psikologis 2.000, posisi cadangan devisa juga mencatat rekor tertinggi sejak bangsa Indonesia berdiri.
Menurut data yang dirilis Bank Indonesia (BI) kemarin, pada pekan pertama Mei 2007, cadangan devisa Indonesia mencapai USD 50,3 miliar (sekitar Rp 437,61 triliun). Jumlah itu meningkat drastis dari posisi awal tahun yang berada di kisaran USD 42 miliar. Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengatakan, posisi cadangan devisa tersebut mampu membiayai impor dan membayar utang luar negeri lima bulan. Salah satu faktor utama yang mendorong pencapaian tersebut adalah realisasi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang mencapai angka USD 4,6 miliar. “Perkembangan yang menggembirakan pada neraca pembayaran Indonesia per triwulan pertama 2007 menunjukkan surplus USD 4,6 miliar,” jelas Burhanuddin kepada wartawan kemarin. Selain itu, kondisi tersebut didorong oleh perbaikan kinerja transaksi berjalan yang mencatat surplus USD 3,2 miliar. Ini sejalan dengan peningkatan ekspor nonmigas yang lebih tinggi akibat perkembangan harga yang lebih kondusif, sementara impor tumbuh sesuai perkiraan. Sebelumnya, Burhanuddin sempat mengusulkan untuk mengumpulkan cadangan devisa di tingkat regional. Itu penting dilakukan untuk meningkatkan ketahanan mata uang masing-masing di kawasan yang saling terkait. Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) itu juga mengemukakan bahwa dengan penguatan cadangan devisa tersebut, BI akan membiarkan kurs rupiah terus menguat. Aliran asing yang masuk ke Indonesia diproyeksikan juga terus terjadi sehingga BI hanya akan menjaga volatilitas nilai tukar rupiah. Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom menjelaskan, penguatan rupiah berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. Setiap kenaikan nilai tukar satu persen akan mendorong pertumbuhan ekonomi 0,05 persen dan mengurangi laju inflasi 0,07 persen. Miranda menambahkan, penguatan tersebut berdampak signifikan pada dunia usaha, terutama bagi importer dan eksporter. “Angka sekarang untuk importer comfortable, tapi untuk eksporter ini akan membuka kesempatan bagi mereka memperbaiki efisiensi. Saya memahami setiap ada penguatan rupiah pasti ada beberapa eksporter yang tidak menyukainya,” paparnya. Menurut Miranda, untuk beberapa komoditas ekspor yang memiliki konten impor tinggi, justru akan membuat biaya produksi lebih murah. “Jadi, kalaupun rupiah yang diterima lebih sedikit dari hasil ekspor, karena rupiah yang dikeluarkan untuk impor lebih murah, buat mereka hampir sama,” tuturnya. Pemerintah sebenarnya tinggal memanfaatkan modal yang positif tersebut untuk mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tahun ini dicanangkan tumbuh 6,3 persen. Dari data yang dirilis BPS, pertumbuhan ekonomi dalam kuartal pertama tahun ini mencapai angka 6 persen. Di tempat terpisah, pengamat pasar uang Farial Anwar mengemukakan, penguatan cadangan devisa tersebut merupakan hal positif. “Setidaknya terdapat dua hal positif dengan posisi cadangan yang membesar tersebut. Pertama, BI memiliki kekuatan untuk mengupayakan kestabilan nilai tukar mata uang rupiah, baik di atas maupun di bawah,” katanya. Menurut Farial, kekuatan tersebut bisa bermanfaat pada kemandirian bangsa. Dia mencontohkan posisi cadangan devisa Tiongkok yang kini mencapai USD 1,2 triliun. “China (Tiongkok) bisa cuek saja terhadap apa yang dilakukan AS dengan cadangan devisa sedemikian besar,” paparnya. Stabilisasi rupiah bisa dilakukan BI dengan menjual dolar bila terjadi penguatan dolar. Atau, membeli dolar bila memang rupiah menguat terlalu tajam. “Cadangan triliunan rupiah di SBI ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengupayakan kestabilan mata uang rupiah,” paparnya. Dengan posisi cadangan devisa mencapai USD 50 miliar, sementara dana asing di SBI, SUN, dan pasar modal yang diperkirakan mencapai USD 10 miliar, kekhawatiran krisis tidak beralasan. “Jadi, kekhawatiran seperti yang dikemukakan pejabat tinggi beberapa waktu lalu tidak akan terjadi. Lain halnya dengan krisis 1997 yang cadangan devisa sekitar USD 20 miliar, sementara dana asing USD 35-40 miliar,” jelasnya. Meski demikian, Farial menilai perlunya langkah konkret BI untuk membatasi masuknya dana asing, terutama di instrumen SBI yang dinilai hanya membebani biaya moneter. “BI harus tegas membatasi dana asing di SBI. Kita jangan terlalu membiarkan dana yang tidak berguna itu terus berada di SBI,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Komisi XI Awal Kusumah mengemukakan, modal positif pencapaian cadangan devisa tersebut bisa digunakan pemerintah untuk memperluas dampak pembangunan ekonomi yang dilakukan. “Dengan cadangan devisa mencapai USD 50 miliar tersebut, berarti aktivitas ekonomi jalan. Karena itu, seharusnya pemerintah bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih menekankan pada pemerataan,” ujarnya. Pemerataan tersebut dilakukan pemerintah dengan mendorong aktivitas perekonomian rakyat. “Jadi, tidak hanya korporasi yang diperhatikan. Sektor UKM dan usaha kecil lainnya bisa turut merasakan dampak aktivitas ekonomi yang berjalan,” katanya. Politikus Partai Golkar itu menegaskan, pergerakan sektor riil harus menjadi salah satu perhatian utama pemerintah dengan membaiknya kondisi makroekonomi yang ada. |
| < Prev | Next > |
|---|
![]() |
lipkoliksa (2010-07-31 04:17:41) |
![]() |
Albina_powwer (2010-07-30 23:50:35) |
![]() |
madzoombax (2010-07-30 20:22:22) |
![]() |
Docfimi STOKE (2010-07-30 20:16:16) |
![]() |
fax Lopez (2010-07-30 19:27:33) |
![]() | 3832 registered |
![]() | 3 today |
![]() | 95 this week |
![]() | 453 this month |
![]() | Last: lipkoliksa |
| Visits today: | 28 |
| Visits yesterday: | 195 |
| Visits month: | 4521 |
| Bots today: | 31 |
Total Visitors: ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
Money and corruption are ruining the land, crooked politicians betray the working man, pocketing the profits and treating us like sheep, and we're tired of hearing promises that we know they'll never keep!
-Ray Davies